AS-SUNNAH TIDAK DAPAT DIUKUR DENGAN AKAL-AKAN MANUSIA



Ushul As-Sunnah



Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du



๐Ÿ“š AS-SUNNAH TIDAK DAPAT DIUKUR DENGAN AKAL-AKAN MANUSIA



๐ŸŒŽSumber

 



Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal rahimahullah berkata: Di antara pondasi Ahlus sunnah adalah



ูˆَู„ุงَ ุชُุถْุฑِุจُ ู„َู‡َุง ุงู„ุฃَู…ْุดَุงู„ُ. ูˆَู„ุงَ ุชُุฏْุฑِูƒُ ุจِุงู„ุนُู‚ُูˆْู„ِ ูˆَู„ุงَ ุงْู„ุฃَู‡ْูˆَุงุกِ، ุฅِู†َّู…َุง ู‡ُูˆَ ุงْู„ุงِุชْุจَุงุนُ، ูˆَุชَุฑْูƒُ ุงู‡َูˆَู‰



As-Sunnah tidak boleh dibuat pemisalan dan tidak dapat diukur dengan akal dan hawa nafsu, akan tetapi dengan ittiba dan meninggalkan hawa nafsu


Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah hadits


ุงู„ْูˆُุถُูˆุกُ ู…ِู…َّุง ู…َุณَّุชِ ุงู„ู†َّุงุฑُ




Hendaklah berwudhu setelah memakan makanan yang terkena api.” [HR. Muslim]


Maka ada seorang sahabat berkata padanya (Abu Hurairah): “Tidakkah kamu memerintahkan mereka agar berwudhu setelah minum air panas.” Maka ia jawab: “Wahai anak saudaraku, jika aku menyampaikan padamu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka janganlah kamu membuat pemisalan-pemisalan untuknya.” [Isnadnya hasan sesuai dengan syarat Imam Muslim, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Shahih At-Tirmidzi]


*Abu Muawiyah pernah menyampaikan hadits Abu Hurairah di dalam mejelis Harun Ar-Rasyid, hadits tentang: “Nabi Adam dan Musa saling berhujah (adu argumentasi)*


*Maka Isa Bin Ja’far berkata: “Bagaimana mungkin ini terjadi di antara Nabi Adam dan Musa?” Maka Harun melompat karenanya dan berkata: “Apakah kamu menentangnya dengan perkataan ‘Kaifa (Bagaimana)’ sedangkan ia menyampaikan kepadamu hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam*


*Imam Abu Utsman Ash-Shabuni mengomentari perbuatan Harun Ar-Rasyid tersebut dengan perkataannya: “Demikianlah yang sepatutnya dilakukan oleh seorang muslim, hendaklah ia mengagungkan khabar-khabar (hadits) yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyikapinya dengan sikap menerima dan berserah diri serta pembenaran. Dan hendaklah ia mengingkari dengan sebesar-besar pengingkaran terhadap orang yang tidak mengikuti jalan tersebut sebagaimana yang dilakukan Harun Ar-Rasyid terhadap orang yang menentang khabar (hadits shahih) yang didengarnya dengan perkataan kaifa (bagaimanakah?) dalam rangka mengingkari dan menjauhinya serta tidak menerimanya sebagaimana mestinya ia menerima semua yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Aqidah Ashhabil Hadits, hal. 12]*


*Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata dalam riwayat yang shahih: “Seandainya perkara agama ini diukur dengan akal/pendapat, maka bagian bawah terompah ini lebih patut dibasuh daripada bagian atasnya (yakni ketika berwudhu).” [Diriwayatkan oleh Abu Daud dan selainnya dan Ibnu Hazm menshahihkan isnadnya dan Syeikh Al-Albani menshahikannya di dalam Al irwaa (103)]*


*Umar radhiallahu ‘anhu berkata: “Ahli ra’yi (orang-orang yang mendewakan akal) telah menjadi musuh-musuh sunnah. Hadits-hadits Nabi telah menjadikan mereka tidak mampu memahaminya dan tidak dapat meriwayatkannya, sehingga mereka pun bergegas menuju pendapat akal.” [Jami’ bayan al-‘ilmi. Lihat pula kitab Bid’atut Ta’ashshubi Al-Madzhabi karya Syaikh Muhammad ‘Ied Al-Abbasi hafidzahullah]*


*Semoga Allah Ta’ala menunjuki kita pada jalan yang lurus dan dapat menambah ilmu serta menambah keimanan kita sehingga kita tetap istiqomah di atas aqidah dan As-Sunnah yang shohih. Wallahu a’lam*

ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…



*๐Ÿ““ Referensi: Kitab Ushul as-Sunnah. Karya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Pustaka Darul Ilmi*



*✒️ Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan*



*๐Ÿ“ก Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dzikir-Dzikir Yang Shahih Setelah Shalat (Bag.2)

Sholat Arba’in di Masjid Nabawi

Hukum Ghibah Kepada Non Muslim